Manajemen Proses
Membangun sistem pendukung - Apa yang dibutuhkan setiap proses untuk berjalan efektif
Apakah kita benar-benar perlu belajar tentang Process Execution? Bukankah kita hanya… mengeksekusinya?
Ya, benar.
Mengapa? Karena proses tidak mengeksekusi dirinya sendiri. Orang yang mengeksekusinya. Dan orang jauh dari dapat diandalkan.
Execution sering diperlakukan sebagai otomatis. Seolah-olah, setelah diagram proses digambar dan langkah-langkahnya dipublikasikan, pekerjaan akan selesai begitu saja.
Realitas yang diabaikan - Process design ≠ kesuksesan proses
Bayangkan meluncurkan proses sales onboarding yang dipetakan dengan indah: setiap langkah didefinisikan dengan jelas, setiap peran ditetapkan. Di atas kertas, seharusnya bekerja dengan sempurna. Namun entah bagaimana, pelanggan diabaikan, tugas tidak selesai, dan handover ke finance tidak pernah terjadi.
Apa yang terjadi?
- CRM tidak diatur untuk tim baru
- Sales rep tidak pernah mendapat training
- Sistem notifikasi email tidak diaktifkan
- Form approval masih dalam format lama
Tak satu pun dari ini adalah cacat desain. Ini adalah kegagalan support. Dan mereka terjadi jauh lebih sering daripada yang Anda harapkan.
Artikel ini menguraikan apa yang harus disiapkan setiap organisasi sebelum execution dapat terjadi dengan andal, berdasarkan lima pilar support yang disarankan dalam ISO 9001:2015.
5 hal yang dibutuhkan setiap proses untuk berhasil
Resources - Orang membutuhkan sarana
Anchor question: Apakah orang memiliki apa yang mereka butuhkan untuk mengeksekusi pekerjaan seperti yang didefinisikan?
Contoh: SOP Anda mengatakan "Submit to CRM," tetapi setengah dari tim belum onboarded ke dalam sistem. Proses tidak gagal karena desain yang buruk; gagal karena resources yang hilang.
Ketika proses gagal dalam execution, seringkali bukan karena desain langkahnya, tetapi karena orang tidak dilengkapi untuk melaksanakannya. Seperti yang dinyatakan Clause 7.1 dalam ISO 9001:2015, kita perlu memastikan resources tersedia sebelum mengharapkan hasil apa pun.
Tetapi apa sebenarnya yang dianggap sebagai resource?
Dalam bahasa ISO, resources adalah semua input – tangible atau intangible – yang diperlukan untuk melakukan tugas. Dalam konteks BPM, ini berarti apa pun yang tim butuhkan untuk mengeksekusi langkah persis seperti yang dimaksudkan.
Kategori umum process resources meliputi:
- Human resources – orang dengan ketersediaan yang tepat dan kehadiran fisik
- Tools and equipment – dari platform software hingga alat fisik di shop floor
- Infrastructure – workstation, mesin, akses internet, fasilitas
- Materials – input mentah atau barang yang telah diproses sebelumnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan
- Data and system access – credentials, dashboard, API, atau laporan
- Support services – seperti IT support atau logistics partner
Tidak peduli seberapa sederhana atau kompleks prosesnya, execution bergantung pada building block ini. Satu resource yang hilang atau tidak selaras – seperti user tidak memiliki akses ke tool, atau form tidak tersedia – dapat menghentikan seluruh operasi.
Cara memastikan resources siap untuk execution
- Map resource needs di task level: Untuk setiap langkah dalam proses, buat daftar apa yang diperlukan untuk menyelesaikannya – siapa, tool apa, material apa, akses apa. Jangan anggap ketersediaan. Tuliskan.
- Assign responsibility untuk provisioning: Klarifikasi siapa yang bertanggung jawab memastikan setiap resource tersedia. Misalnya, HR mungkin menangani tool access untuk new hire, sementara IT menyediakan digital tools.
- Build readiness checklist sebelum rollout: Sebelum proses baru atau yang diperbarui diluncurkan, jalankan checklist:
- Apakah semua user sudah onboarded dan trained pada required tools?
- Apakah mereka memiliki permission yang benar?
- Apakah semua form, template, dan material tersedia?
- Apakah working environment disiapkan (misalnya perangkat yang benar, workspace)?
- Link resources langsung di BPM tool Anda: Lampirkan system links, document references, atau tool access instructions ke setiap process step. Jangan harapkan orang mencarinya.
- Conduct small-scale pilots untuk mengungkap gap tersembunyi: Coba jalankan proses dengan grup kecil untuk mengungkap persyaratan resource yang hilang atau tidak praktis sebelum full rollout.
Competence - Orang harus memiliki kemampuan
Anchor question: Apakah orang yang ditugaskan untuk tugas mampu melakukannya dengan benar dan konsisten?
Contoh cepat: Tim finance baru saja memperbarui workflow approval invoice mereka. Semuanya dipetakan dengan baik: siapa yang memasukkan data, siapa yang approve, dan kapan melepaskan pembayaran. Tetapi ketika proses diluncurkan, masalah muncul. Ternyata junior clerk tidak tahu cara mencocokkan invoice dengan purchase order. Logika approval masuk akal bagi designer, tetapi doer tidak dilatih. Ini bukan cacat process design; ini competence gap.
Bahkan proses yang dirancang terbaik akan gagal jika orang yang ditugaskan untuk mengeksekusinya tidak dilengkapi dengan competence yang diperlukan.
Competence berarti lebih dari sekadar memiliki seseorang di kursi. Ini tentang memastikan bahwa orang tersebut memiliki pengetahuan, skill, dan judgment untuk melaksanakan tugas yang ditugaskan mereka sesuai dengan proses yang didefinisikan. Ini dapat berasal dari pengalaman, training formal, atau instruksi hands-on, tetapi harus disengaja dan diverifikasi.
Dalam process execution, competence failures muncul sebagai:
- Kesalahan berulang dan rework
- Penundaan karena keraguan atau kebingungan
- Workaround yang bypass alur yang dimaksudkan
- Staf menghindari tugas yang tidak mereka pahami
Cara membangun competence ke dalam BPM execution
- Define skill requirements untuk setiap tugas: Selama process design, jangan hanya menetapkan langkah ke departemen atau peran; tentukan skill atau training apa yang diperlukan. Misalnya, "Verify pricing against approved rate card" mungkin memerlukan familiaritas dengan ERP codes atau pricing tiers.
- Validate current competence: Lakukan gap analysis sederhana:
- Siapa yang ditugaskan untuk setiap tugas?
- Apakah mereka pernah melakukan ini sebelumnya?
- Apakah mereka memiliki training, certification, atau mentoring yang relevan?
- Integrate learning resources ke dalam proses: Lampirkan how-to guides pendek, tooltip, atau video cepat langsung ke dalam BPM system. Orang tidak seharusnya harus mencari informasi.
- Use hands-on walkthroughs sebelum rollout: Simulasikan proses secara real time dengan orang sungguhan. Amati di mana mereka ragu atau membuat kesalahan – ini adalah training gap yang menyamar.
- Track training sebagai requirement: Untuk peran yang terkait dengan proses yang diatur atau kompleks, sertakan penyelesaian training sebagai prasyarat. Di lingkungan high-risk, no training = no task assignment.
Awareness - Orang membutuhkan alignment
Anchor question: Apakah orang memahami tujuan dan dampak tugas mereka dalam proses?
Contoh cepat: Tim warehouse ditugaskan untuk log returned items ke dalam sistem dalam 12 jam. Namun, sebagian besar return tidak dicatat selama berhari-hari. Tim terlalu sibuk untuk meluangkan waktu untuk data entry. Yang tidak mereka sadari adalah bahwa log yang tertunda mengganggu stock accuracy, membingungkan customer service, dan menghentikan approval refund. Kegagalan sebenarnya di sini bukanlah workflow; itu awareness.
Proses tidak gagal hanya karena orang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sering gagal karena orang tidak memahami mengapa mereka perlu melakukannya atau bagaimana tindakan mereka mempengaruhi gambaran yang lebih besar. Itulah mengapa kita perlu memastikan bahwa orang aware akan pentingnya pekerjaan mereka dan bagaimana itu berkontribusi pada tujuan keseluruhan.
Ketika seseorang memahami outcome dari tindakan mereka – siapa yang dibantu, siapa yang terkena dampak, apa yang terjadi jika dilewati – mereka mendekati tugas dengan tujuan yang lebih besar. Di sisi lain, tugas yang tampak minor atau terputus sering ditunda, dilakukan dengan ceroboh, atau dijatuhkan sepenuhnya.
Awareness sangat penting dalam proses cross-functional, di mana orang yang melakukan tugas tidak akan melihat end result. Mudah untuk mengabaikan bagaimana tugas 2 menit dapat menciptakan penundaan 2 hari untuk seseorang di downstream.
Cara menanamkan awareness ke dalam process execution Anda
- Mulai setiap proses dengan purpose statement: Dalam dokumentasi BPM Anda atau workflow tool, sertakan ringkasan singkat di bagian atas proses atau dalam tugas kunci: "Proses ini memastikan...", "Langkah ini penting karena...".
- Communicate process impacts selama rollout: Jangan hanya melatih cara melakukan tugas – jelaskan apa yang terjadi jika mereka terlewat. Tunjukkan konsekuensi downstream dan customer impact dalam onboarding sessions.
- Reinforce process context dalam task descriptions: Alih-alih mengatakan "Log return ID," katakan "Log return ID sehingga refund dan restock dapat dilanjutkan tanpa penundaan." Frasa sederhana dapat mengubah nada dari kewajiban menjadi ownership.
- Use dashboards untuk menunjukkan ripple effect: Jika memungkinkan, tunjukkan KPI yang menghubungkan langkah satu tim dengan outcome (misalnya, "average refund time" atau "stock accuracy"). Ini memperkuat bahwa tugas mereka penting.
- Cascade messages dari leadership: Ketika leadership menjelaskan bagaimana pekerjaan front-line mendukung strategic goals seperti customer satisfaction, efficiency, dan compliance, itu meningkatkan clarity dan morale.
- Awareness bukan tentang kuliah panjang. Ini tentang pengingat kecil yang konsisten bahwa peran Anda penting, dan bahwa yang terlihat seperti klik atau submission rutin sebenarnya adalah bagian dari rantai yang membuat bisnis bergerak.
Communication - Orang membutuhkan clarity
Anchor question: Apakah informasi yang tepat mencapai orang yang tepat pada waktu yang tepat selama execution?
Contoh cepat: Langkah approval dalam proses purchasing memerlukan sign-off dari finance manager. Tetapi tidak ada yang mengirim notifikasi. Manager bahkan tidak tahu ada request yang pending. Itu duduk di limbo selama lima hari sampai seseorang follow up secara manual. Semua orang melakukan bagian mereka — kecuali proses tidak berbicara. Itu communication breakdown.
Proses adalah urutan tugas, tetapi mereka juga urutan sinyal. Tanpa komunikasi yang tepat, bahkan workflow yang dirancang terbaik akan terhenti atau menyamping.
Communication failures sering muncul sebagai silence:
- Seseorang menunggu trigger yang tidak pernah datang
- Handover diasumsikan tetapi tidak dikonfirmasi
- Perubahan dibuat pada form atau rule, tetapi user tidak diberitahu
Communication bukan hanya fungsi support; itu bagian dari process design.
Cara membangun communication ke dalam cara proses Anda beroperasi
- Define communication paths secara eksplisit: Dalam dokumentasi proses Anda, jangan anggap handoff akan terjadi. Eja mereka:
- Siapa yang perlu diberitahu?
- Pesan atau informasi apa yang perlu dibagikan?
- Melalui channel apa (email, software alert, verbal handover)?
- Use workflow systems dengan built-in notifications: Di mana pun memungkinkan, otomatisasi handoff. Biarkan sistem memberi tahu peran berikutnya kapan giliran mereka – jangan mengandalkan orang yang ingat untuk mengirim update.
- Include escalation rules untuk delays: Jika langkah tidak diselesaikan dalam timeframe yang ditetapkan, siapa yang harus diberitahu? Bangun escalation triggers untuk mencegah bottleneck tidak terlihat.
- Clarify approval routes: Jika langkah memerlukan sign-off, pastikan orang yang bertanggung jawab didefinisikan dengan jelas dan memiliki visibility. Jangan biarkan vague – "manager" tidak cukup spesifik.
- Enable feedback loops: Buat ruang untuk pertanyaan, klarifikasi, dan koreksi. Ini mungkin sesederhana comment box di BPM tool atau sestruktur post-execution review session.
- Announce changes dengan jelas dan luas: Ketika proses berubah, perbarui dokumentasi Anda dan umumkan kepada orang-orang. Bukan hanya tim frontline, tetapi siapa pun yang terpengaruh oleh atau bergantung pada perubahan.
Jika Anda ingin execution berjalan lancar, pastikan proses itu sendiri berkomunikasi di setiap tahap.
Documented Information - Orang membutuhkan struktur
Anchor question: Apakah orang memiliki akses ke instruksi yang benar, terkini, dan jelas yang mereka butuhkan untuk melakukan tugas?
Contoh cepat: Anggota staf menggunakan form vacation request lama karena di-bookmark di desktop mereka. Form itu merutekan ke manager yang sudah pensiun dan tidak menyertakan approval section baru. Form itu tidak salah; hanya saja sudah outdated.
Elemen pendukung ini fokus pada documented information – bukan hanya memilikinya, tetapi memastikan itu controlled, accessible, dan relevant. Dalam BPM, ini berarti menghubungkan workflow Anda ke instruksi live yang dapat dipercaya yang memandu tindakan di setiap langkah.
Tugas mungkin sederhana. Tetapi jika orang yang melakukannya harus:
- Bertanya kepada kolega versi mana yang digunakan
- Menggali folder untuk dokumen yang tepat
- Menebak formatting atau kriteria
…maka proses berisiko. Penyalahgunaan dokumentasi bukan masalah user; itu masalah sistem.
Cara membuat dokumentasi mendukung execution:
Link dokumentasi langsung ke process steps: Dalam platform BPM Anda, jangan hanya menyebutkan "refer to SOP." Lampirkan atau embed file sebenarnya. Gunakan clickable links, integrated templates, atau hover-over tooltips.
- Use version control dengan clear naming conventions: Selalu tunjukkan dokumen mana yang merupakan current version. Versi lama harus diarsipkan dan tidak dapat diakses untuk penggunaan day-to-day. Gunakan date stamps dan version numbers dengan jelas pada dokumen itu sendiri.
- Keep instructions pendek dan task-specific: Pecah SOP besar menjadi panduan modular, step-level bila memungkinkan. User yang mengeksekusi tugas 5 menit tidak seharusnya harus scroll melalui 12 halaman instruksi yang tidak terkait.
- Review and update documents secara teratur: Bangun review cycles ke dalam process governance Anda. Jika tool, policy, atau rule berubah, periksa semua linked documents. Dokumentasi lama adalah salah satu penyebab tersembunyi paling umum dari execution errors.
- Design documents untuk usability: Gunakan visual cues: step numbers tebal, screenshot, tabel untuk opsi atau threshold. Jangan harapkan semua orang membaca paragraf – design untuk pemahaman cepat secara real-time.
- Ensure access control and availability: Semua performer harus dapat mengakses dokumen yang mereka butuhkan kapan mereka membutuhkannya, baik mereka di desktop, mobile, atau di lapangan.
Documented information seringkali merupakan satu-satunya koneksi tangible antara process design dan execution. Buatlah mudah ditemukan, mudah diikuti, dan tidak mungkin salah, dan Anda akan menghilangkan setengah kesalahan yang merayap ke dalam daily operations.
Final thoughts - Bersiap untuk menjalankan, kemudian terus berjalan
Execution bukan hanya meluncurkan proses. Ini adalah moment of truth, di mana intent bertemu reality. Dan itu hanya bekerja ketika environment siap: tools tersedia, orang mampu, informasi mengalir dengan jelas, dan instruksi dapat digunakan.
Kita perlu menggeser pertanyaan dari "Mengapa ini tidak selesai?" menjadi "Apakah kita memberi mereka apa yang mereka butuhkan untuk berhasil?".
Tetapi readiness bukan segalanya. Setelah proses bergerak, kita masih memerlukan struktur dan kontrol untuk memastikan itu dieksekusi seperti yang dimaksudkan. Sekali lagi, clause 8 dalam ISO 9001:2015 memberi kita hint tentang checklist ini.
Execution checklist:
Sebelum Anda tekan "go," tanyakan:
- Apakah process inputs divalidasi sebelum memulai? (misalnya confirmed orders, complete forms, required data)
- Apakah proses diikuti persis seperti yang didefinisikan? (tidak ada langkah yang dilewati, tidak ada informal workaround)
- Apakah outputs diperiksa sebelum dirilis? (misalnya approvals, QC steps, sign-offs)
- Apakah non-conforming work diidentifikasi dan ditangani? (errors ditandai, rework dipicu, outcomes dapat dilacak)
- Apakah perubahan dikontrol dan didokumentasikan? (tidak ada silent edits pada langkah, dokumen, atau tanggung jawab)
Sebagian besar checklist ini tampak jelas, tetapi ini bukan tentang birokrasi – ini tentang reliability. Ingat: selalu ada gap antara planning dan reality. Sementara 5 elemen di atas membantu proses Anda memulai dengan kuat, checklist ini membantu Anda menyelesaikan dengan benar.
Dalam artikel berikutnya, kita akan mulai mundur. Checklist ini tentang in-process control, sementara Monitoring Stage berikutnya dalam BPM lifecycle kita seperti rearview mirror dan fuel gauge Anda.

Camellia
Content Strategist
On this page
- Realitas yang diabaikan - Process design ≠ kesuksesan proses
- 5 hal yang dibutuhkan setiap proses untuk berhasil
- Resources - Orang membutuhkan sarana
- Competence - Orang harus memiliki kemampuan
- Awareness - Orang membutuhkan alignment
- Communication - Orang membutuhkan clarity
- Documented Information - Orang membutuhkan struktur
- Final thoughts - Bersiap untuk menjalankan, kemudian terus berjalan
- Execution checklist: