Bahasa Indonesia
"Work Smart"

Turn this article into takeaways for your work.
Each assistant summarizes the article only for you and suggests best practices for your work.
Dalam berbagai konferensi startup, saya sering ditanya dengan pertanyaan seperti, "Bagaimana Anda berhasil mendapatkan pendanaan dalam jumlah besar? Bagaimana Anda meyakinkan para investor?" Pertanyaan ini mengingatkan saya pada masa lalu, ketika orang-orang biasa bertanya, "Bagaimana caranya saya bisa masuk Stanford?" Baik itu soal penggalangan dana maupun penerimaan masuk kampus, selalu ada peluang untuk "mengakali sistem", dan beberapa orang cukup mahir melakukannya, menganggapnya sebagai cara paling cerdas.
Untuk memperjelas, saya sama sekali bukan "ahli penggalangan dana" ataupun "pakar penerimaan kampus", jadi orang-orang mungkin sedang bertanya pada orang yang salah. Bahkan, saya selalu mengingatkan rekan-rekan VC saya bahwa mereka seharusnya tidak meminta para founder menghabiskan terlalu banyak waktu untuk penggalangan dana, fokus utama harus selalu diarahkan pada produk dan bisnis.
Ketika mengonboarding karyawan baru, beberapa dari mereka bertanya, "Mengapa prinsip inti perusahaan hanya memuat Work Hard, bukan Work Smart?" Menanggapi hal itu, saya hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa kami beruntung memiliki tim yang berisi orang-orang yang sangat cerdas, sehingga kami berharap mereka semua bekerja dengan cerdas. Namun, bekerja keras adalah konsep yang sama sekali berbeda, karena hal itu tidak alami dan tidak mudah. Orang hanya bisa mewujudkannya jika dan hanya jika (i) mereka memiliki hasrat yang mendalam terhadap apa yang mereka kerjakan; dan (ii) setiap hari sepulang kerja, mereka merasakan kebahagiaan yang tulus karena kemajuan nyata yang telah mereka capai hari itu.
Dari kedua kisah di atas, muncul satu pola yang sama: orang-orang sering kali begitu ingin mencapai kesuksesan secepat mungkin melalui gagasan "bekerja cerdas". Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan "bekerja cerdas", karena kebanyakan orang cerdas mempraktikkannya setiap hari. Namun, kekeliruan yang mungkin muncul terletak pada anggapan bahwa "bekerja cerdas" semata-mata berarti menemukan jalan pintas untuk memenangkan pertarungan dengan usaha paling sedikit: baik itu perjalanan penggalangan dana, proses penerimaan kampus, atau bahkan rutinitas kerja biasa, semuanya hanya soal mencari tips, trik, dan cara instan untuk meminimalkan usaha.
Masalahnya, ada dua pertarungan paling penting dalam hidup di mana "jalan pintas" sama sekali tidak berlaku. Pertarungan pertama adalah membangun perusahaan yang berkelanjutan, dan pertarungan kedua adalah pengembangan pribadi. Mengapa? Karena setiap jalan pintas yang dibangun di atas fondasi yang lemah pada akhirnya harus dibayar suatu hari nanti. Untuk kedua pertarungan tersebut, "mengakali sistem" hanya akan memberikan hasil yang buruk.
"Bekerja cerdas" biasanya merupakan kebiasaan orang-orang cerdas, dan kata "kebiasaan" berarti sesuatu yang "alami" serta tidak membutuhkan usaha khusus. Di sisi lain, "bekerja keras" adalah karakter istimewa pada level tertinggi karena membutuhkan tekad sekaligus motivasi yang tak tergoyahkan. Dan dari pengalaman saya sendiri, semua orang yang bekerja paling keras selalu menjadi orang-orang paling cerdas yang pernah saya temui dalam hidup saya.
Jadi, "bagaimana kami bisa mendapatkan pendanaan dalam jumlah besar? Bagaimana kami bisa meyakinkan para investor?", saya dengan tenang menjawab mereka, "Kami hanya perlu bekerja lebih keras, dan akan terus melakukannya selama 10 tahun ke depan".
Pada saat itu, dalam hati saya menyadari bahwa itu setara dengan 10 tahun tekad dan motivasi yang tak tergoyahkan.

Founder & CEO