Bahasa Indonesia

Sprint Retrospective: Format, Pertanyaan, dan Contoh

Papan sprint retrospective dengan kolom start, stop, continue

Sprint retrospective adalah pertemuan di mana tim berhenti sejenak dari proses pengiriman selama satu jam untuk membahas secara jujur tentang cara kerja mereka. Sebagian besar tim menjadwalkannya. Namun sangat sedikit yang menjalankannya dengan baik.

Apa Itu Sprint Retrospective?

Sprint retrospective adalah upacara Scrum yang berulang, diselenggarakan di akhir setiap Sprint, di mana tim merefleksikan cara kerja bersama dan menyepakati perbaikan konkret yang akan dibawa ke Sprint berikutnya. Ini adalah percakapan tentang "cara kita bekerja," bukan percakapan tentang "apa yang kita bangun."

Scrum Guide mendefinisikan tiga pertanyaan yang membingkai setiap retrospective: Apa yang berjalan dengan baik? Apa yang bisa ditingkatkan? Dan satu perbaikan bernilai tinggi apa yang akan dikomitmen oleh tim untuk Sprint berikutnya?

Di mana perencanaan Sprint menetapkan arah tim untuk Sprint yang akan datang, retrospective menutup siklus Sprint yang baru saja selesai. Keduanya membentuk mesin perbaikan dalam metodologi agile.

Fakta Utama

  • Sprint retrospective telah menjadi bagian dari Scrum Guide resmi sejak rilis pertamanya pada 1995, dan merupakan salah satu dari lima event Scrum (Scrum Guide, 2020).
  • "Agile Retrospectives: Making Good Teams Great" oleh Esther Derby dan Diana Larsen (2006) mengkodifikasi struktur retrospective lima tahap yang digunakan oleh mayoritas tim Scrum hingga saat ini.
  • 83% tim agile berkinerja tinggi melaporkan menjalankan retrospective secara rutin, dibandingkan dengan 52% tim berkinerja rendah (State of Agile Report, Edisi ke-17, 2023).

Sprint Retrospective vs Sprint Review

Dua pertemuan ini berlangsung di akhir setiap Sprint dan mudah tertukar. Namun keduanya melayani tujuan yang sepenuhnya berbeda.

Sprint Retrospective Sprint Review
Fokus Proses tim dan praktik kerja Increment produk dan Backlog
Pertanyaan inti Bagaimana kita bisa bekerja lebih baik? Apakah produk memenuhi tujuan?
Peserta Tim Scrum saja (tanpa pemangku kepentingan) Tim Scrum beserta pemangku kepentingan
Output Action items perbaikan untuk Sprint berikutnya Product Backlog yang diperbarui dan Feedback
Nada Internal, terbuka, kadang tidak nyaman Demonstratif, kolaboratif

Retrospective adalah untuk tim. Review adalah untuk produk. Menjalankan keduanya sebagai satu pertemuan adalah kesalahan umum yang merusak keterbukaan: orang tidak akan berbicara jujur tentang masalah proses ketika pemangku kepentingan eksternal ada di ruangan.

5 Tahap Retrospective

5 tahap sprint retrospective

Struktur lima tahap Derby dan Larsen dari "Agile Retrospectives" memberikan tim alur yang andal. Setiap tahap memiliki tujuan spesifik, dan melewati tahapan inilah yang membuat sebagian besar retro gagal.

Tahap Nama Tujuan Waktu (retro 60 menit)
1 Set the stage Membuat semua orang hadir dan selaras; membangun rasa aman secara psikologis 5 menit
2 Gather data Mengungkap fakta tentang Sprint (kejadian, metrik, perasaan) 15 menit
3 Generate insights Memahami akar masalah, bukan sekadar gejala 15 menit
4 Decide what to do Memilih satu hingga tiga action items perbaikan yang konkret 15 menit
5 Close Mengapresiasi kontribusi, menilai retro itu sendiri 10 menit

Tim yang langsung melompat ke "generate insights" tanpa mengumpulkan data terlebih dahulu akan berakhir berdebat pendapat daripada merespons bukti. Dan tim yang melewati tahap "close" kehilangan kesempatan untuk memperbaiki retro itu sendiri dari waktu ke waktu.

Format Retrospective yang Populer

Format sprint retrospective yang populer

Format yang Anda pilih membentuk percakapan yang Anda dapatkan. Berikut adalah lima format retrospective yang paling sering digunakan dan kapan masing-masing paling cocok.

Format Cara kerja Terbaik untuk
Start-Stop-Continue Tiga kolom: apa yang harus kita mulai lakukan, berhenti lakukan, dan terus lakukan Pilihan standar untuk sebagian besar tim; cocok untuk Sprint apa pun
4Ls (Liked, Learned, Lacked, Longed For) Empat prompt yang mencakup kepuasan, kesenjangan pembelajaran, dan kebutuhan yang belum terpenuhi Tim yang berfokus pada pertumbuhan dan pengembangan keterampilan
Mad-Sad-Glad Pemeriksaan emosional sebelum masuk ke konten; tiga kategori perasaan Sprint dengan ketegangan, konflik, atau moral rendah
Sailboat (atau Speed Boat) Visual: angin = apa yang membantu, jangkar = apa yang memperlambat kita, batu karang = risiko ke depan Tim yang berpikir visual atau perlu mengangkat kekhawatiran jangka panjang
DAKI (Drop, Add, Keep, Improve) Empat kuadran: apa yang perlu ditinggalkan sepenuhnya, ditambahkan baru, dipertahankan, atau ditingkatkan Tim yang membutuhkan kejelasan tindakan yang terperinci, bukan sekadar refleksi

Rotasi format setiap beberapa Sprint. Menjalankan Start-Stop-Continue setiap saat menghasilkan jawaban yang sama dari orang-orang yang sama. Format baru menyegarkan percakapan.

Pertanyaan Retrospective yang Perlu Diajukan

Pertanyaan retrospective yang baik membuka percakapan, bukan menutupnya. Berikut adalah prompt yang dikelompokkan berdasarkan tujuan.

Untuk mengungkap apa yang berjalan dengan baik:

  • Apa yang Anda banggakan dari Sprint ini?
  • Bagian proses mana yang bekerja lebih baik dari yang diharapkan?
  • Apa yang kita lakukan yang harus kita jaga dan tidak pernah dipotong?

Untuk mengungkap apa yang menjadi hambatan:

  • Apa yang paling memperlambat Anda di Sprint ini?
  • Di mana kita kehilangan kepercayaan satu sama lain atau dengan pemangku kepentingan?
  • Apa yang harus Anda siasati daripada hadapi langsung?

Untuk menghasilkan insights:

  • Mengapa ini terjadi, dan apakah ini pernah terjadi sebelumnya?
  • Jika kita mengubah satu hal tentang cara kita bekerja, apa yang akan memberikan dampak terbesar?
  • Asumsi apa yang kita buat yang ternyata salah?

Untuk mendorong tindakan:

  • Satu hal apa yang kita komitmen untuk diubah di Sprint berikutnya?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas perubahan itu, dan bagaimana kita tahu itu berhasil?
  • Seperti apa "keberhasilan" untuk perbaikan ini dalam dua minggu?

Fasilitator retro terbaik tidak memilih pertanyaan terlebih dahulu untuk setiap tahap. Mereka mendengarkan di tahap dua dan membiarkan data menunjukkan pertanyaan insight dan tindakan mana yang paling penting untuk Sprint spesifik ini.

Cara Menjalankan Sprint Retrospective

Sprint retrospective yang berjalan dengan baik tidak terjadi secara kebetulan. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk retro satu jam standar untuk Sprint dua minggu.

Langkah 1: Tetapkan batasan waktu pertemuan

Tetapkan waktu akhir yang pasti dan patuhi. Scrum Guide mengalokasikan maksimal tiga jam untuk Sprint satu bulan, disesuaikan secara proporsional. Untuk Sprint dua minggu, 60 hingga 90 menit adalah target. Beritahu tim tentang batasan waktu di awal. Ini menciptakan urgensi dan mencegah Tahap 4 tersqueeze.

Langkah 2: Set the stage (5 menit)

Mulailah dengan pemeriksaan suhu atau check-in satu kata ("bagaimana perasaan Anda tentang Sprint ini dalam satu kata?"). Ini membuat semua orang berbicara sebelum topik-topik sulit muncul, dan memberi sinyal bahwa perasaan adalah data valid di sini, bukan gangguan. Ingatkan tim tentang retrospective prime directive: setiap orang melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan dengan informasi dan sumber daya yang tersedia.

Langkah 3: Gather data (15 menit)

Minta setiap orang untuk menulis observasi pada sticky notes (fisik atau digital) untuk kategori format yang dipilih. Atur timer. Kemudian setiap orang berbagi catatannya satu per satu. Jangan berdiskusi dulu: cukup ungkapkan dan kelompokkan. Di akhir tahap ini, Anda harus memiliki peta visual Sprint di papan.

Langkah 4: Generate insights (15 menit)

Pilih dua atau tiga kelompok dengan energi terbanyak. Tanyakan "mengapa" daripada "apa." Jika tim berkata "kita memiliki terlalu banyak gangguan," tanyakan apa penyebabnya. Apakah prioritas yang tidak jelas? Rotasi on-call yang tidak terlindungi? Pemangku kepentingan yang langsung menghubungi para engineer? Perubahan pada akar masalah mengubah perilaku. Solusi pada gejala tidak.

Langkah 5: Decide what to do (15 menit)

Tim memilih satu hingga tiga action items perbaikan. Setiap tindakan membutuhkan pemilik, definisi selesai, dan tanggal check-in (biasanya retrospective berikutnya). Tuliskan di tempat yang benar-benar akan dilihat tim: sprint board, dokumen bersama, atau item agenda check-in rutin. Jika action items dari enam retrospective terakhir tim Anda tersimpan dalam dokumen yang tidak pernah dibuka siapa pun, itulah masalah proses yang perlu diperbaiki terlebih dahulu.

Langkah 6: Close dan nilai retro (10 menit)

Minta setiap orang untuk menilai retrospective pada skala satu hingga lima dan menjelaskan penilaian mereka dalam satu kalimat. Terdengar sepele, namun begitulah cara retro membaik dari waktu ke waktu. Jika semua orang memberinya nilai tiga karena diskusi tetap di permukaan, Anda tahu untuk memilih format atau fasilitator yang berbeda lain kali. Terima kasih kepada orang-orang atas keterbukaan mereka dan akhiri tepat waktu.

Langkah 7: Tindak lanjuti action items

Scrum Master memeriksa action items perbaikan di awal retrospective Sprint berikutnya. Bukan sebagai audit, melainkan sebagai sinyal: apakah kita benar-benar melakukan apa yang kita katakan? Jika action item yang sama muncul dalam tiga retrospective berturut-turut, itu bukan action item, melainkan masalah struktural yang membutuhkan jenis percakapan yang berbeda.

Pola Anti-Retrospective yang Umum

Bahkan tim yang secara rutin menjalankan retrospective bisa terjebak dalam pola-pola yang mengosongkan nilainya.

Sesi pelampiasan. Retro menjadi forum keluhan tanpa insight atau tindakan. Solusi: tegakkan Tahap 3 dan Tahap 4 bahkan ketika Tahap 2 berjalan terlalu lama.

Kata-kata yang sama setiap saat. "Komunikasi," "dokumentasi," "proses," dan "kejelasan" muncul di setiap papan, Sprint demi Sprint. Solusi: rotasi format, ajukan pertanyaan akar masalah, dan lacak apakah action items Sprint lalu benar-benar terselesaikan.

Ruangan yang hening. Tidak ada yang menulis sesuatu yang jujur karena ada manajer di ruangan atau karena tim tidak merasa cukup aman. Solusi: jalankan retro sebagai event khusus tim Scrum dan secara eksplisit sebutkan prime directive di awal.

Action items tanpa pemilik. "Tim akan meningkatkan handoffs" berarti tidak ada yang akan meningkatkan handoffs. Solusi: setiap action item membutuhkan satu pemilik yang disebutkan namanya dan hasil yang terukur.

Kelelahan retrospective. Tim telah menjalani begitu banyak retro yang tidak produktif sehingga mereka sudah secara mental tidak terlibat. Solusi: akui secara langsung, jalankan satu format yang benar-benar berbeda, dan tutup dengan action item nyata yang terselesaikan sebelum retro berikutnya dimulai. Satu sesi yang produktif mengatur ulang ekspektasi lebih cepat daripada lima percakapan tentang mengapa retro itu penting.

Filosofi Kaizen tentang perbaikan berkelanjutan menggambarkan retrospective dengan baik: perbaikan kecil yang konsisten berkembang lebih cepat daripada perombakan berkala. Satu perubahan bermakna per Sprint berarti 26 perbaikan dalam setahun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa lama sprint retrospective seharusnya?

Scrum Guide menetapkan maksimal tiga jam untuk Sprint satu bulan, disesuaikan secara proporsional. Untuk Sprint dua minggu, 60 hingga 90 menit adalah standar. Tim dengan kebiasaan retrospective yang kuat sering menyelesaikannya dalam 45 menit karena mereka telah belajar bergerak cepat dari data ke insight hingga tindakan.

Siapa yang menghadiri sprint retrospective?

Sprint retrospective hanya untuk tim Scrum: Scrum Master, Product Owner, dan tim pengembangan. Pemangku kepentingan, manajer, dan pelanggan tidak hadir. Ketidakhadiran mereka disengaja. Retro adalah tempat tim membahas cara kerja bersama, dan percakapan itu membutuhkan rasa aman secara psikologis yang tidak bisa ada jika pengamat eksternal hadir.

Apa perbedaan antara sprint retrospective dan sprint review?

Sprint review berfokus pada produk: tim mendemonstrasikan apa yang dibangun, pemangku kepentingan memberikan Feedback, dan Backlog diperbarui. Sprint retrospective berfokus pada proses: tim merefleksikan cara kerja bersama dan menyepakati perbaikan. Output berbeda, peserta berbeda, nada berbeda. Jangan pernah menggabungkan keduanya dalam satu pertemuan.

Seberapa sering Anda harus menjalankan retrospective?

Setiap Sprint, tanpa pengecualian. Nilai retrospective berkembang dengan konsistensi: tim membangun kepercayaan, action items terlacak, dan perbaikan menjadi kebiasaan bukan sekadar peristiwa. Tim yang melewatkan retrospective selama "Sprint yang sibuk" adalah tim yang paling membutuhkannya.

Apa yang membuat format retrospective bagus untuk tim yang sedang kesulitan?

Mulailah dengan Mad-Sad-Glad atau pemeriksaan perasaan sederhana sebelum yang lain. Tim yang sedang kesulitan sering memiliki konten emosional yang tidak terungkap yang menghalangi pengumpulan data yang jujur. Setelah perasaan diberi nama dan diakui, tim bisa beralih ke tahap analitik. Start-Stop-Continue dan DAKI (Drop, Add, Keep, Improve) keduanya bekerja dengan baik untuk menghasilkan tindakan terstruktur dari data emosional tersebut.


Sprint retrospective adalah tempat komitmen agile terhadap perbaikan berkelanjutan benar-benar hidup atau mati. Setiap tim menjalankan Sprint. Mereka yang secara konsisten menghasilkan pekerjaan yang lebih baik adalah mereka yang memperlakukan retrospective dengan serius seperti halnya perencanaan Sprint. Pilih format Anda, tetapkan batasan waktu pertemuan, dapatkan satu action item nyata, dan periksa apakah itu terselesaikan sebelum retro berikutnya dimulai. Itulah seluruh praktiknya.